Peran Penting Mangrove bagi Ekosistem dan Pesisir Indonesia
Mangrove atau bakau merupakan ekosistem penting yang berada di wilayah intertidal atau zona pasang surut pantai, umumnya terlindungi dari gelombang besar dan berada di sekitar muara sungai. Keberadaan mangrove sangat krusial, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki garis pantai panjang. Indonesia bahkan memegang peranan penting di tingkat global karena memiliki hutan mangrove terluas di dunia, menjadikannya salah satu sumber daya alam paling berharga.
Ekosistem mangrove tersusun atas pohon dan semak dengan kemampuan adaptasi unik terhadap lingkungan ekstrem, baik air asin maupun payau. Tanaman ini mampu bertahan melalui sistem akar khas dan kuat, seperti akar tunjang, akar lutut, dan akar napas. Sistem akar tersebut memungkinkan mangrove tumbuh di tanah lumpur yang tidak stabil sekaligus membantu penyerapan oksigen. Berkat kemampuan adaptasi ini, mangrove dapat hidup di area yang tidak mampu dihuni oleh tanaman darat biasa.
Ancaman Kerusakan Mangrove dan Dampaknya terhadap Wilayah Pesisir
Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Namun posisi geografis yang strategis ini juga membuat wilayah pesisir Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti kenaikan muka air laut, abrasi, meningkatnya frekuensi badai, serta penurunan kualitas sumber daya perikanan.
Di tengah kompleksitas persoalan tersebut, ekosistem mangrove justru kerap terabaikan dalam perencanaan pembangunan wilayah pesisir. Padahal secara ilmiah, mangrove berfungsi sebagai struktur hijau yang melindungi kawasan pesisir dari berbagai tekanan alam.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa akar mangrove, seperti Rhizophora sp. dan Avicennia sp., mampu mengurangi energi gelombang hingga 66 persen sebelum mencapai garis pantai. Fungsi ini tidak hanya menekan laju abrasi, tetapi juga menstabilkan sedimen dan mengurangi intrusi air laut ke daratan.
Nilai Ekologis dan Ekonomi Mangrove
Dari sudut pandang ekologi, hutan mangrove merupakan habitat penting bagi berbagai organisme pesisir. Mangrove berfungsi sebagai tempat pemijahan, area mencari makan, dan lokasi berlindung bagi ikan, udang, kepiting, serta beragam biota lainnya.
Hilangnya fungsi tersebut menimbulkan efek berantai. Penurunan jumlah ikan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada keberlanjutan sumber daya laut.
Berbagai kajian ekonomi lingkungan menunjukkan bahwa kerugian akibat hilangnya ekosistem mangrove jauh lebih besar dibandingkan keuntungan jangka pendek dari alih fungsi lahan. Namun hingga kini, mangrove masih kerap dianggap sebagai lahan tidak terpakai tanpa nilai ekonomi yang jelas.

Sumber: YKAN (Yayasan Konservasi Alam Nusantara)
Mangrove dan Perubahan Iklim Global
Dari perspektif ilmiah, mangrove memiliki kemampuan penyerapan karbon biru yang jauh lebih tinggi dibandingkan hutan daratan. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan cadangan karbon biru terbesar di dunia.
Mengabaikan potensi ini berarti Indonesia kehilangan instrumen penting dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus peluang pembiayaan konservasi berbasis karbon yang terus berkembang secara global.
Tantangan Rehabilitasi Mangrove Berbasis Sains
Program rehabilitasi mangrove yang selama ini dijalankan sering kali bersifat seremonial dan tidak berbasis sains. Penanaman dilakukan di lokasi yang tidak sesuai dengan karakter pasang surut, menggunakan jenis mangrove yang kurang tepat, serta tanpa perawatan berkelanjutan.
Pendekatan seperti ini menciptakan ilusi kehijauan, seolah-olah restorasi telah berhasil, padahal tidak memberikan perbaikan ekologis yang signifikan. Pelestarian mangrove seharusnya dilakukan secara terpadu dengan melibatkan perencanaan wilayah pesisir, pengelolaan perikanan, pengurangan risiko bencana, serta kebijakan perubahan iklim.
Penutup
Mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di daerah pasang surut. Mangrove adalah ekosistem kompleks yang menyatukan perlindungan pantai, penyediaan pangan, penyerapan karbon, serta dukungan terhadap stabilitas pesisir.
Mengabaikan mangrove di tengah meningkatnya erosi dan kenaikan muka air laut bukan hanya kelalaian lingkungan, melainkan kesalahan serius dalam perencanaan pembangunan jangka panjang Indonesia.