BANGKA BELITUNG — Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Pulau Bangka Belitung menjadi lokasi kajian intensif keanekaragaman ikan air tawar Indonesia. Sedikitnya sepuluh publikasi ilmiah yang terbit di jurnal internasional terindeks Scopus, jurnal nasional terakreditasi SINTA, serta prosiding konferensi internasional, mendokumentasikan kondisi biologis perairan darat Bangka secara sistematis dan berbasis data lapangan.
Publikasi tersebut melibatkan peneliti dari Universitas Bangka Belitung, Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung, serta kolaborator lintas institusi nasional dan internasional, dan dipublikasikan antara lain di International Journal of Agriculture & Biology, Journal of Water and Land Development, Cybium, Iranian Journal of Ichthyology, serta IOP Conference Series: Earth and Environmental Science.
Jika dibaca secara kolektif, riset-riset tersebut menunjukkan bahwa Bangka Belitung bukan wilayah miskin keanekaragaman, melainkan wilayah yang selama ini minim dokumentasi ilmiah, sekaligus menyimpan tingkat endemisitas dan dinamika ekologis yang tinggi.
Penambahan Data Keanekaragaman dan Rekaman Spesies Baru
Sejumlah penelitian mencatat pencatatan pertama (first record) dan perluasan sebaran geografis (range extension) berbagai spesies ikan air tawar di Pulau Bangka. Kajian keanekaragaman di Sungai Namang, Bangka Tengah, misalnya, mendokumentasikan lebih dari 15 spesies ikan air tawar, termasuk kelompok Cyprinidae lokal seperti Barbodes (puntung) dan Rasbora (seluang), yang sebelumnya belum terdokumentasi secara komprehensif di wilayah ini.
Temuan tersebut memperkuat posisi Bangka Belitung sebagai bagian penting dari lanskap biogeografi Paparan Sunda, dengan keterkaitan historis ke Sumatra dan Kalimantan.
Endemisitas dan Identitas Genetik yang Baru Terdokumentasi
Salah satu kontribusi ilmiah paling signifikan adalah DNA barcoding pertama ikan endemik Bangka, Betta burdigala, spesies yang berstatus Critically Endangered. Penelitian ini menyediakan referensi genetik global berbasis gen COI, yang sebelumnya belum tersedia bagi spesies tersebut.

“Data genetik ini menjadi kunci karena tanpa identitas genetik yang jelas, spesies endemik seperti Betta burdigala sangat rentan luput dari skema perlindungan berbasis sains,” ujar Swarlanda, peneliti dan kolaborator riset keanekaragaman ikan Bangka Belitung.
Pendekatan genetika juga digunakan untuk menelaah hubungan kekerabatan Betta burdigala dengan spesies Betta lain di Asia Tenggara, memperkuat hipotesis bahwa isolasi pulau memainkan peran penting dalam pembentukan karakter endemik Bangka.
Spesies Langka dan Celah Distribusi yang Selama Ini Kosong
Beberapa publikasi lain mendokumentasikan rekaman pertama spesies ikan langka, seperti Mastacembelus notophthalmus (belut duri), yang sebelumnya tidak pernah tercatat di Pulau Bangka. Temuan ini menutup celah besar dalam peta distribusi ikan air tawar Indonesia dan memperluas batas sebaran spesies di tingkat regional.
Secara ilmiah, pencatatan semacam ini menjadi dasar penting bagi penilaian status konservasi dan perencanaan pengelolaan perairan darat.
Ikan Introduksi sebagai Indikator Gangguan Ekosistem
Di sisi lain, sejumlah studi juga mencatat kehadiran dan perluasan sebaran ikan introduksi, seperti Amphilophus labiatus (ikan louhan/Red Devil) dan Betta splendens (cupang hias), di perairan alami Bangka.
Masuknya ikan non-native ini dipandang sebagai indikator gangguan ekosistem. “Spesies introduksi berpotensi menekan ikan lokal melalui kompetisi dan predasi, terutama di perairan kecil dan rawa gambut yang sensitif,” tulis peneliti dalam salah satu publikasi.
Pendekatan Metodologis dan Bukti Lapangan
Rangkaian publikasi ini menggunakan pendekatan metodologis yang beragam, mulai dari analisis morfologi dan meristik, DNA barcoding berbasis gen COI, hingga eDNA metabarcoding untuk menilai komunitas ikan pada sistem floodplain dan rawa gambut.
Hasil kajian menunjukkan bahwa perairan air hitam dengan pH rendah dan kandungan organik tinggi justru menjadi habitat penting bagi spesies spesialis, namun sangat rentan terhadap degradasi habitat.
Implikasi Kebijakan dan Arah Tindak Lanjut
Para peneliti menilai bahwa temuan-temuan ini perlu segera diterjemahkan ke dalam langkah kebijakan yang konkret, dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan instansi teknis terkait, antara lain:
• Perumusan Regulasi
Mendorong Pemerintah Provinsi bersama OPD lingkungan hidup untuk menyusun kebijakan perlindungan rawa gambut, sungai air hitam, dan sistem floodplain sebagai habitat kritis ikan endemik.
• Biosekuriti Perairan Darat
Memperkuat peran instansi perikanan dan karantina dalam pengawasan serta pembatasan pelepasan ikan introduksi (non-native) ke perairan umum.
• Data-Driven Policy
Mengintegrasikan data DNA barcoding, rekaman distribusi spesies, dan hasil riset eDNA ke dalam perencanaan konservasi daerah dan kebijakan pengelolaan lingkungan berbasis bukti.
Penutup
Dengan tersedianya sepuluh publikasi ilmiah berbasis lapangan, Bangka Belitung kini tidak lagi berada dalam kekosongan data. Tantangan utama ke depan adalah menerjemahkan bukti ilmiah menjadi kebijakan dan aksi konservasi nyata. Tanpa langkah tersebut, keunikan ikan endemik Bangka Belitung berisiko terdokumentasi dengan baik, namun tetap gagal dilindungi.
Daftar Publikasi Terkait
-
First Record of Mastacembelus notophthalmus for Bangka Island – Cybium
-
First Record of Siamese Fighting Fish Betta splendens in Bangka Island – AACL Bioflux
-
Range Extension of Barbodes lateristriga to Bangka Island – Iranian Journal of Ichthyology
-
Fish Diversity in Namang River – Journal of Global Sustainable Agriculture
-
Studi Morfometrik dan Meristik Barbodes sellifer – Journal of Aquatropica Asia
-
Unveiling the Enigmatic Dwarf Horseface Loach Acanthopsoides molobrion – Biosaintifika
-
Genetic Relationship between Betta burdigala and Betta uberis – IOP Conference Series: EES