BANGKA BELITUNG — Nama Swarlanda tercatat sebagai co-author dalam sepuluh publikasi ilmiah yang membahas keanekaragaman ikan air tawar Pulau Bangka. Seluruh dokumen tersebut terdokumentasi dan dapat diakses melalui laman resmi Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung (YIEBB), lembaga konservasi dan riset yang berbasis di Kepulauan Bangka Belitung.
Sepuluh publikasi tersebut terbit pada berbagai level publikasi ilmiah, meliputi jurnal internasional terindeks Scopus, prosiding internasional terindeks Scopus, jurnal nasional terakreditasi SINTA, serta jurnal ilmiah lainnya. Seluruhnya berfokus pada eksplorasi, identifikasi, distribusi, serta analisis genetika ikan air tawar Bangka.
Publikasi pada Jurnal Internasional Terindeks Scopus
Sebagai co-author, Swarlanda terlibat dalam lima artikel yang dipublikasikan pada jurnal internasional terindeks Scopus, yaitu:
International Journal of Agriculture & Biology (Scopus Q3)
Artikel “Revolutionary Breakthrough: Unveiling the First DNA Barcoding of Endemic Wild Betta burdigala from Bangka Island, Indonesia” yang menyajikan data DNA barcoding pertama untuk ikan endemik Bangka dengan status konservasi kritis. LIHAT JURNAL
Journal of Water and Land Development (Scopus Q2)
Publikasi “Exploring Freshwater Fish Biodiversity Using eDNA Metabarcoding and Traditional Sampling to Assess Floodplain Waters” yang mengombinasikan metode eDNA dan penangkapan konvensional untuk mengkaji keanekaragaman ikan pada sistem floodplain Bangka. LIHAT JURNAL
Cybium (Scopus Q3)
Artikel “First Record of the Uncommon Spiny Eel Mastacembelus notophthalmus for Bangka Island, Indonesia” yang mendokumentasikan pencatatan pertama spesies tersebut di Pulau Bangka. LIHAT JURNAL
Iranian Journal of Ichthyology (Scopus Q4)
Artikel “Range Extension of Spanner Barbs Barbodes lateristriga to Bangka Island Indonesia”. LIHAT JURNAL
AACL Bioflux (Scopus Q4)
Artikel “First Record of Siamese Fighting Fish Betta splendens in Bangka Island, Indonesia” yang mencatat keberadaan Betta splendens di Bangka. LIHAT JURNAL

Prosiding Internasional Terindeks Scopus
Selain jurnal, Swarlanda juga tercatat sebagai co-author dalam dua artikel yang dipublikasikan pada IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, yang merupakan prosiding konferensi internasional terindeks Scopus, yaitu:
“Range Expansion of Red Devil Cichlid Amphilophus labiatus in Bangka Island, Indonesia” yang membahas perluasan sebaran ikan introduksi di perairan Bangka. LIHAT DOKUMEN
“Unveiling the Close Relationship between Betta burdigala and Betta uberis through DNA Barcoding Based on COI Gene” yang mengkaji hubungan genetik dua spesies Betta berbasis gen COI. LIHAT DOKUMEN
Jurnal Nasional Terakreditasi SINTA
Pada tingkat nasional, Swarlanda juga terlibat sebagai co-author dalam dua jurnal terakreditasi SINTA, yakni:
Biosaintifika (SINTA 2)
Artikel “Unveiling the Enigmatic Dwarf Horseface Loach Acanthopsoides molobrion: A Groundbreaking Discovery in Indonesia” yang melaporkan temuan spesies loach di Indonesia. LIHAT JURNAL
Journal of Global Sustainable Agriculture (SINTA 3)
Publikasi “Fish Diversity in Namang River, Bangka Tengah Regency, Bangka Belitung Province” yang mengulas keanekaragaman ikan Sungai Namang dan kondisi habitatnya. LIHAT JURNAL
Jurnal Ilmiah Lainnya
Satu publikasi lainnya terbit pada jurnal ilmiah yang belum terindeks Scopus maupun SINTA, namun tetap berkontribusi dalam dokumentasi iktiofauna Bangka, yaitu:
Journal of Aquatropica Asia
Studi “Studi Morfometrik dan Meristik Barbodes sellifer sebagai Tahap Awal Domestikasi” yang membahas karakter morfologi dan meristik ikan lokal Bangka. LIHAT JURNAL
Peran Swarlanda dalam Publikasi Ilmiah
Dalam seluruh publikasi tersebut, Swarlanda berperan sebagai co-author, dengan kontribusi pada kegiatan eksplorasi lapangan, pendataan spesies, dokumentasi habitat, serta diskusi dan analisis hasil penelitian. Peran ini berjalan seiring dengan aktivitas konservasi dan riset yang dilakukan melalui Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung.
Rangkaian sepuluh publikasi ini menunjukkan bahwa riset ikan air tawar Bangka telah berkembang dari inventarisasi dasar menuju kajian taksonomi, biogeografi, dan genetika yang diakui di tingkat nasional dan internasional. Capaian tersebut sekaligus memperkuat posisi Pulau Bangka sebagai wilayah penting dalam kajian iktiofauna kawasan Sundaland.